ANAKKU SUDAH BERUSIA 7 TAHUN TAPI BELUM BISA MEMBACA, NORMAL KAH? (Bagian 1).

ANAKKU SUDAH BERUSIA 7 TAHUN TAPI BELUM BISA MEMBACA, NORMAL KAH?
(Bagian 1).

Menurut riset, jika ditemukan anak usia 7 tahun, tetapi belum bisa membaca disebabkan belum pernah distimulus huruf maka itu sangat wajar, tidak usah panik. Tapi jika di usia anak 7 tahun, belum bisa membaca meskipun sudah distimulus huruf maka perlu diobservasi masalahnya. Sebelum memvonis macam2, perhatikan bbrp hal berikut ini:

1. Apakah anak sudah menguasai semua ketrampilan dasar yg lebih mudah daripada mengenal huruf seperti mengenal warna? Contoh sudah menguasai warna primer dan kompleks?

2. Apakah anak bisa dengan mudah mengidentifikasi berbagai bentuk bidang datar?

3. Apakah anak kesulitan mengidentifikasi semua huruf dalam alfabet? Atau hanya sebagian saja yg susah mengingatnya (seperti kesulitan mengingat huruf2 mirip spt b dengan d, m dengan w, p dengan q, dll)?

Analisis masalah :

1. Jika anak berusia 7 tahun, belum menguasai warna dasar dan kompleks padahal sudah distimulus maka perlu dicek apakah kesulitan penguasaan materi warna tersebut disebabkan oleh adanya “kelainan” mata (buta warna) ataukah sebab lain. Konsep warna secara umum bisa dikuasai oleh anak berusia 3-4 tahun. Jadi jika usia 7 tahun belum memahami konsep warna maka perlu dilakukan cek ke dokter mata.

Mengapa perlu tes warna utk anak yg belum bisa membaca? Karena ketrampilan penguasaan warna (kecuali kasus buta warna) lebih mudah dikuasai dibanding huruf/simbol. Anak2 yg tidak dapat memahami konsep warna, 90% akan kesulitan memahami konsep huruf. Sebab pemahaman huruf itu sifatnya abstrak (lebih rumit dibanding warna). Kita tidak dapat memberikan ekspektasi berlebihan kepada anak yg tidak dapat menguasai warna dengan baik, untuk dapat menguasai materi huruf.

Bagaimana jika buta warna? Anak2 yg buta warna umumnya akan gagal tes ini, bahkan sampai usia di atas 7 tahun pun tidak dapat membedakan warna2 tertentu. Jika anak Bunda positif buta warna, maka lakukan pendekatan kedua, yaitu tentang penguasaan bidang datar sebelum menganalisis penyebab utama ketidakmampuannya mengidentifikasi huruf. Sebab hampir 100% anak usia 7 tahun, telah memiliki kesiapan belajar membaca. Itulah yg menyebabkan negara Finlandia menerapkan calistung pada usia 7 tahun, sebab hampir semua anak di usia tersebut telah dinyatakan siap belajar membaca. Berbeda dg Amerika dan Inggris yg mengajarkan calistung usia 4 – 5 tahun, sebab prosentase ketidaksiapan 8% (kesiapan anak 92%).

Jika anak usia 7 tahun, tidak mengalami buta warna tapi tidak dapat mengenal konsep warna maka perlu dianalisis penyebabnya. Apakah stimulasi warna yg telah diterapkan kepadanya benar? Jika stimulasi warna pendekatannya salah, maka perlu dilakukan pendekatan khusus agar anak menguasai warna dahulu. Jangan pernah berharap anak yg kesulitan menguasai warna (padahal tidak mengalami buta warna) utk dapat menguasai materi huruf.

Anak2 harus diupayakan bisa menguasai ketrampilan2 yg jauh lebih sederhana dan mudah dahulu, sebelum memelajari ketrampilan yg lebih sulit agar belajar membaca jadi menyenangkan.

Mau tahu kelanjutan artikelnya? Simak terus materi di fanpage ABACA FLASHCARD Kartu Belajar Membaca Balita Dilengkapi Game Seru.

Oleh : Diena Ulfaty, owner abaca flashcard.

JANGAN LUPA GUNAKAN MEDIA RAMAH OTAK SEPERTI ABACA FLASHCARD AGAR PERKEMBANGAN SI KECIL SEMAKIN PESAT.

ABACA FLASHCARD, PROFESOR FLASHCARD INDONESIA.

TAHAPAN BELAJAR MEMBACA

Ayahbunda, mari kita kenali tahapan belajar membaca putra/putri kita, yang saya kutip dari suatu sumber.

Menurut Stein (Ahmad Susanto 2011:90) bahwa, kemampuan membaca anak usia dini dibagi menjadi empat tahap perkembangan, yaitu sebagai berikut:
a) Tahap timbulnya kesadaran terhadap tulisan
Pada tahap ini, anak mulai belajar menggunakan buku dan menyadari
bahwa buku ini penting, melihat-lihat buku dan membalik-balik buku
kadang-kadang anak membawa buku kemana-mana tempat
kesenangannya.

b) Tahap membaca gambar
Anak usia TK sudah bisa memandang dirinya sebagai pembaca dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna gambar, membaca buku dengan menggunakan bahasa buku walau tidak cocok dengan tulisannya.
Anak TK sudah menyadari bahwa buku sebuah buku memiliki karakteristik khusus, seperti judul,halaman, huruf, kata dan kalimat serta tanda baca walaupun anak belumfaham semuanya.

c)Tahap pengenalan bacaan
Pada tahap ini anak TK telah dapat menggunakan tiga sistem bahasa,seperti fonem (bunyi huruf), semantik (arti kata), dan sintaksis (aturan kataatau kalimat) secara bersama-sama. Anak yang sudah tertarik pada bahan bacaan mulai mengingat kembali bentuk huruf dan konteksnya. Anak mulai mengenal tanda-tanda yang ada pada benda-benda dilingkungannya

d) Tahap membaca lancar
Pada tahap ini, anak sudah dapat membaca secara lancar berbagai jenis buku yang berbeda dan bahan-bahan yang langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Nah, Ananda sudah pada tahapan apa?

MANA YANG LEBIH BAIK, APAKAH MENGHAFAL HURUF DAHULU ATAU LANGSUNG MEMBACA SUKU KATA ?

(baca yuk, semoga bermanfaat)

Hampir semua ortu ataupun pendidik selalu menghafal nama huruf dulu sebelum memulai belajar membaca, dan para ortu sangat ingin anaknya cepat menguasai materi (bisa membaca dalam waktu yang singkat). Dan sebagian orangtua menjadi kebingungan mengapa anak-anak yang mengenal nama huruf seperti a, b, c, dan seterusnya., selalu mempunyai kecenderungan mengeja ketika membaca suku kata. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan peristiwa ini.

Dalam belajar membaca itu melibatkan dua komponen, yaitu pada saat menghafal nama huruf dan memahami karakter huruf pada saat bertemu dengan huruf lainnya. Namun komponen yang paling penting yang menentukan kemampuan membaca adalah “anak diberitahu tata cara membaca suku kata BUKAN menghafal nama huruf yang terangkai dalam setiap suku kata.” Karena dalam proses membaca, lebih membutuhkan kemampuan melafalkan sifat atau karakter huruf apabila bertemu dengan huruf lainnya seperti yang ada pada metode pengenalan suku kata, dibandingkan mengenal nama huruf satu persatu yang membutuhkan waktu lebih lama untuk anak agar sampai bisa membaca.

Hal yang harus mendapatkan perhatian ortu atau guru adalah bisa memisahkan sebuah “kewajaran” dari peristiwa dengan “kesalahan”. Apabila anak Anda tidak pernah menghafal nama huruf maka dia akan mudah sekali menerima konsep bahwa simbol “ba” itu dibaca “ba”, dan seterusnya. Namun dia akan sering salah ketika menyebutkan nama huruf, contoh menyebut huruf “b” sebagai “ba”. Hal ini bukanlah kesalahan, namun kewajaran, disebabkan anak memang belum memahami nama huruf. Tetapi keuntungan anak yang belum mengenal nama huruf, tidak mempunyai kecenderungan mengeja huruf pada saat diberitahukan kepadanya suku kata “ba”, “ca”, dan lain-lain.

Nah, bagaimana apabila anak sudah terlanjur menghafal nama huruf ? Apabila hal itu terjadi, maka janganlah panik, memang akan ada sedikit kendala namun jangan dipermasalahkan. Anak-anak yang mengenal nama huruf terlebih dahulu apabila belajar menggunakan abaca akan mempunyai kecenderungan mengeja atau menyebut nama-nama huruf pembentuk suku kata, contoh ketika menyebutkan huruf “b” dan “a” pada saat disodori suku kata “ba”. Apabila menghadapi masalah seperti ini, jangan panik, namun lakukan pendekatan yang membuat anak memahami polanya. Beritahukan empat kartu dulu dan fahamkan anak tersebut terhadap polanya.

Contohnya, beritahukan kepada anak polanya dengan mengatakan seperti ini :
b bertemu “a” itu “ba”
c bertemu “a” itu “ca”
f bertemu “a” itu “fa”
g bertemu “a” itu “ga”

lalu ulangi dengan pertanyaan di atas, ulangi sampai anak tidak lagi melakukan kesalahan. Kemudian setelah itu hilangkan kata “bertemu” dan tunjukkan kartu abaca mulai dari ba, ca, fa, ga dengan mengubah pertanyaan, “Ini apa sayang?”, lakukan hal ini beberapa kali sampai anak tidak lagi melakukan kesalahan dan langsung menghilangkan kebiasaan mengejanya.

Apabila anak sudah faham polanya, maka tambahkan lagi kartunya kemudian tanyakan kepada anak dengan permainan seperti tebak-tebakan. Apabila anak sudah faham polanya, maka tidak perlu waktu lama lagi untuk lulus seri 1. Anak-anak yang menghafal nama huruf terlebih dahulu mempunyai keistimewaan atau kelebihan dapat menyelesaikan abaca lebih cepat dibandingkan anak yang tidak mengenal sama sekali nama huruf terlebih dahulu, namun dengan syarat bahwa anak harus faham polanya terlebih dahulu.

Apabila anak belum faham polanya, maka waktu yang dibutuhkan bisa sedikit lebih lama. Bahkan jauh lebih lama dibandingkan dengan anak-anak yang belajar langsung pengenalan suku kata. Namun dari pengamatan saya terhadap beberapa anak yang pernah dites memakai abaca dan menghafal nama huruf dahulu, ternyata grafik pengenalan suku kata dan penguasaan materi membacanya dapat lebih cepat dibandingkan anak yang belajar membaca tanpa memahami pola suku kata. Namun perbedaannya hanya pada penguasaan Abaca Flashcard seri membcaca 1 saja, selanjutnya ke Abaca Flashcard seri membaca 2 perbedaan waktu penguasaan materi tidak terlalu signifikan antara anak yang menghafal nama huruf terlebih dahulu dengan yang langsung belajar suku kata.

Kapan anak yang belajar membaca langsung memakai metode pengenalan suku kata, apakah dikenalkan dengan nama huruf? Jawabnya adalah tergantung keadaan, bisa usia 6 tahun, bisa pula usia 5 tahun. Tergantung kebutuhan dan keadaan. Yang jelas perlu untuk diingat adalah, bahwa untuk sekedar bisa membaca, bahkan anak tidak perlu mengenal nama huruf.

Akan tetapi apabila anak sudah menginjak usia SD dan menemui pelajaran Matematika, atau ilmu eksak yang seringnya menyebutkan simbol nama huruf tertentu untuk mendefinisikan besaran tertentu, maka anak sudah harus bisa mengenal nama-nama huruf secara keseluruhan supaya tidak kebingungan pada saat dituntut untuk mengenal simbol dalam pelajaran eksak nya. Kemampuan membaca akan sempurna apabila nama huruf pun diketahui oleh anak, meskipun sebenarnya kebutuhan tersebut tidaklah terlalu mendesak saat usia TK.

Diena Ulfaty (Founder Abaca Flashcard)
Gambar oleh Atieqah Arief