ANAKKU SUDAH BERUSIA 7 TAHUN TAPI BELUM BISA MEMBACA, NORMAL KAH? (Bagian 1).

ANAKKU SUDAH BERUSIA 7 TAHUN TAPI BELUM BISA MEMBACA, NORMAL KAH?
(Bagian 1).

Menurut riset, jika ditemukan anak usia 7 tahun, tetapi belum bisa membaca disebabkan belum pernah distimulus huruf maka itu sangat wajar, tidak usah panik. Tapi jika di usia anak 7 tahun, belum bisa membaca meskipun sudah distimulus huruf maka perlu diobservasi masalahnya. Sebelum memvonis macam2, perhatikan bbrp hal berikut ini:

1. Apakah anak sudah menguasai semua ketrampilan dasar yg lebih mudah daripada mengenal huruf seperti mengenal warna? Contoh sudah menguasai warna primer dan kompleks?

2. Apakah anak bisa dengan mudah mengidentifikasi berbagai bentuk bidang datar?

3. Apakah anak kesulitan mengidentifikasi semua huruf dalam alfabet? Atau hanya sebagian saja yg susah mengingatnya (seperti kesulitan mengingat huruf2 mirip spt b dengan d, m dengan w, p dengan q, dll)?

Analisis masalah :

1. Jika anak berusia 7 tahun, belum menguasai warna dasar dan kompleks padahal sudah distimulus maka perlu dicek apakah kesulitan penguasaan materi warna tersebut disebabkan oleh adanya “kelainan” mata (buta warna) ataukah sebab lain. Konsep warna secara umum bisa dikuasai oleh anak berusia 3-4 tahun. Jadi jika usia 7 tahun belum memahami konsep warna maka perlu dilakukan cek ke dokter mata.

Mengapa perlu tes warna utk anak yg belum bisa membaca? Karena ketrampilan penguasaan warna (kecuali kasus buta warna) lebih mudah dikuasai dibanding huruf/simbol. Anak2 yg tidak dapat memahami konsep warna, 90% akan kesulitan memahami konsep huruf. Sebab pemahaman huruf itu sifatnya abstrak (lebih rumit dibanding warna). Kita tidak dapat memberikan ekspektasi berlebihan kepada anak yg tidak dapat menguasai warna dengan baik, untuk dapat menguasai materi huruf.

Bagaimana jika buta warna? Anak2 yg buta warna umumnya akan gagal tes ini, bahkan sampai usia di atas 7 tahun pun tidak dapat membedakan warna2 tertentu. Jika anak Bunda positif buta warna, maka lakukan pendekatan kedua, yaitu tentang penguasaan bidang datar sebelum menganalisis penyebab utama ketidakmampuannya mengidentifikasi huruf. Sebab hampir 100% anak usia 7 tahun, telah memiliki kesiapan belajar membaca. Itulah yg menyebabkan negara Finlandia menerapkan calistung pada usia 7 tahun, sebab hampir semua anak di usia tersebut telah dinyatakan siap belajar membaca. Berbeda dg Amerika dan Inggris yg mengajarkan calistung usia 4 – 5 tahun, sebab prosentase ketidaksiapan 8% (kesiapan anak 92%).

Jika anak usia 7 tahun, tidak mengalami buta warna tapi tidak dapat mengenal konsep warna maka perlu dianalisis penyebabnya. Apakah stimulasi warna yg telah diterapkan kepadanya benar? Jika stimulasi warna pendekatannya salah, maka perlu dilakukan pendekatan khusus agar anak menguasai warna dahulu. Jangan pernah berharap anak yg kesulitan menguasai warna (padahal tidak mengalami buta warna) utk dapat menguasai materi huruf.

Anak2 harus diupayakan bisa menguasai ketrampilan2 yg jauh lebih sederhana dan mudah dahulu, sebelum memelajari ketrampilan yg lebih sulit agar belajar membaca jadi menyenangkan.

Mau tahu kelanjutan artikelnya? Simak terus materi di fanpage ABACA FLASHCARD Kartu Belajar Membaca Balita Dilengkapi Game Seru.

Oleh : Diena Ulfaty, owner abaca flashcard.

JANGAN LUPA GUNAKAN MEDIA RAMAH OTAK SEPERTI ABACA FLASHCARD AGAR PERKEMBANGAN SI KECIL SEMAKIN PESAT.

ABACA FLASHCARD, PROFESOR FLASHCARD INDONESIA.

TAHAPAN BELAJAR MEMBACA

Ayahbunda, mari kita kenali tahapan belajar membaca putra/putri kita, yang saya kutip dari suatu sumber.

Menurut Stein (Ahmad Susanto 2011:90) bahwa, kemampuan membaca anak usia dini dibagi menjadi empat tahap perkembangan, yaitu sebagai berikut:
a) Tahap timbulnya kesadaran terhadap tulisan
Pada tahap ini, anak mulai belajar menggunakan buku dan menyadari
bahwa buku ini penting, melihat-lihat buku dan membalik-balik buku
kadang-kadang anak membawa buku kemana-mana tempat
kesenangannya.

b) Tahap membaca gambar
Anak usia TK sudah bisa memandang dirinya sebagai pembaca dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna gambar, membaca buku dengan menggunakan bahasa buku walau tidak cocok dengan tulisannya.
Anak TK sudah menyadari bahwa buku sebuah buku memiliki karakteristik khusus, seperti judul,halaman, huruf, kata dan kalimat serta tanda baca walaupun anak belumfaham semuanya.

c)Tahap pengenalan bacaan
Pada tahap ini anak TK telah dapat menggunakan tiga sistem bahasa,seperti fonem (bunyi huruf), semantik (arti kata), dan sintaksis (aturan kataatau kalimat) secara bersama-sama. Anak yang sudah tertarik pada bahan bacaan mulai mengingat kembali bentuk huruf dan konteksnya. Anak mulai mengenal tanda-tanda yang ada pada benda-benda dilingkungannya

d) Tahap membaca lancar
Pada tahap ini, anak sudah dapat membaca secara lancar berbagai jenis buku yang berbeda dan bahan-bahan yang langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Nah, Ananda sudah pada tahapan apa?

MANA YANG LEBIH BAIK, APAKAH MENGHAFAL HURUF DAHULU ATAU LANGSUNG MEMBACA SUKU KATA ?

(baca yuk, semoga bermanfaat)

Hampir semua ortu ataupun pendidik selalu menghafal nama huruf dulu sebelum memulai belajar membaca, dan para ortu sangat ingin anaknya cepat menguasai materi (bisa membaca dalam waktu yang singkat). Dan sebagian orangtua menjadi kebingungan mengapa anak-anak yang mengenal nama huruf seperti a, b, c, dan seterusnya., selalu mempunyai kecenderungan mengeja ketika membaca suku kata. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan peristiwa ini.

Dalam belajar membaca itu melibatkan dua komponen, yaitu pada saat menghafal nama huruf dan memahami karakter huruf pada saat bertemu dengan huruf lainnya. Namun komponen yang paling penting yang menentukan kemampuan membaca adalah “anak diberitahu tata cara membaca suku kata BUKAN menghafal nama huruf yang terangkai dalam setiap suku kata.” Karena dalam proses membaca, lebih membutuhkan kemampuan melafalkan sifat atau karakter huruf apabila bertemu dengan huruf lainnya seperti yang ada pada metode pengenalan suku kata, dibandingkan mengenal nama huruf satu persatu yang membutuhkan waktu lebih lama untuk anak agar sampai bisa membaca.

Hal yang harus mendapatkan perhatian ortu atau guru adalah bisa memisahkan sebuah “kewajaran” dari peristiwa dengan “kesalahan”. Apabila anak Anda tidak pernah menghafal nama huruf maka dia akan mudah sekali menerima konsep bahwa simbol “ba” itu dibaca “ba”, dan seterusnya. Namun dia akan sering salah ketika menyebutkan nama huruf, contoh menyebut huruf “b” sebagai “ba”. Hal ini bukanlah kesalahan, namun kewajaran, disebabkan anak memang belum memahami nama huruf. Tetapi keuntungan anak yang belum mengenal nama huruf, tidak mempunyai kecenderungan mengeja huruf pada saat diberitahukan kepadanya suku kata “ba”, “ca”, dan lain-lain.

Nah, bagaimana apabila anak sudah terlanjur menghafal nama huruf ? Apabila hal itu terjadi, maka janganlah panik, memang akan ada sedikit kendala namun jangan dipermasalahkan. Anak-anak yang mengenal nama huruf terlebih dahulu apabila belajar menggunakan abaca akan mempunyai kecenderungan mengeja atau menyebut nama-nama huruf pembentuk suku kata, contoh ketika menyebutkan huruf “b” dan “a” pada saat disodori suku kata “ba”. Apabila menghadapi masalah seperti ini, jangan panik, namun lakukan pendekatan yang membuat anak memahami polanya. Beritahukan empat kartu dulu dan fahamkan anak tersebut terhadap polanya.

Contohnya, beritahukan kepada anak polanya dengan mengatakan seperti ini :
b bertemu “a” itu “ba”
c bertemu “a” itu “ca”
f bertemu “a” itu “fa”
g bertemu “a” itu “ga”

lalu ulangi dengan pertanyaan di atas, ulangi sampai anak tidak lagi melakukan kesalahan. Kemudian setelah itu hilangkan kata “bertemu” dan tunjukkan kartu abaca mulai dari ba, ca, fa, ga dengan mengubah pertanyaan, “Ini apa sayang?”, lakukan hal ini beberapa kali sampai anak tidak lagi melakukan kesalahan dan langsung menghilangkan kebiasaan mengejanya.

Apabila anak sudah faham polanya, maka tambahkan lagi kartunya kemudian tanyakan kepada anak dengan permainan seperti tebak-tebakan. Apabila anak sudah faham polanya, maka tidak perlu waktu lama lagi untuk lulus seri 1. Anak-anak yang menghafal nama huruf terlebih dahulu mempunyai keistimewaan atau kelebihan dapat menyelesaikan abaca lebih cepat dibandingkan anak yang tidak mengenal sama sekali nama huruf terlebih dahulu, namun dengan syarat bahwa anak harus faham polanya terlebih dahulu.

Apabila anak belum faham polanya, maka waktu yang dibutuhkan bisa sedikit lebih lama. Bahkan jauh lebih lama dibandingkan dengan anak-anak yang belajar langsung pengenalan suku kata. Namun dari pengamatan saya terhadap beberapa anak yang pernah dites memakai abaca dan menghafal nama huruf dahulu, ternyata grafik pengenalan suku kata dan penguasaan materi membacanya dapat lebih cepat dibandingkan anak yang belajar membaca tanpa memahami pola suku kata. Namun perbedaannya hanya pada penguasaan Abaca Flashcard seri membcaca 1 saja, selanjutnya ke Abaca Flashcard seri membaca 2 perbedaan waktu penguasaan materi tidak terlalu signifikan antara anak yang menghafal nama huruf terlebih dahulu dengan yang langsung belajar suku kata.

Kapan anak yang belajar membaca langsung memakai metode pengenalan suku kata, apakah dikenalkan dengan nama huruf? Jawabnya adalah tergantung keadaan, bisa usia 6 tahun, bisa pula usia 5 tahun. Tergantung kebutuhan dan keadaan. Yang jelas perlu untuk diingat adalah, bahwa untuk sekedar bisa membaca, bahkan anak tidak perlu mengenal nama huruf.

Akan tetapi apabila anak sudah menginjak usia SD dan menemui pelajaran Matematika, atau ilmu eksak yang seringnya menyebutkan simbol nama huruf tertentu untuk mendefinisikan besaran tertentu, maka anak sudah harus bisa mengenal nama-nama huruf secara keseluruhan supaya tidak kebingungan pada saat dituntut untuk mengenal simbol dalam pelajaran eksak nya. Kemampuan membaca akan sempurna apabila nama huruf pun diketahui oleh anak, meskipun sebenarnya kebutuhan tersebut tidaklah terlalu mendesak saat usia TK.

Diena Ulfaty (Founder Abaca Flashcard)
Gambar oleh Atieqah Arief

TAHAPAN BELAJAR MEMBACA ANAK

TAHAPAN ANAK BELAJAR MEMBACA

Mengenalkan sesuatu perlu proses yang urut, jika menginginkan hasil yg baik. Kalo mau mengenalkan makanan padat pada bayi, maka prosesnya harus diawali dg makanan yg encer sekali hampir spt air, lalu ditingkatkan lagi kepadatannya sampe bayi dapat mengunyah dan mencerna makanan padat dg baik. Tidak mungkin kita kenalkan makanan padat langsung tanpa proses pengenalan makanan yg lebih lunak dulu karena pencernaan bayi bisa bermasalah.

Begitu juga dengan membaca, ada tahapan proses yang harus dilalui bun. Membaca itu adalah keterampilan yang harus dilatih atau distimulus. Secara normal membaca bukanlah bakat alami yang akan muncul dengan sendirinya. Buktinya jumlah angka buta huruf itu tinggi lo.

Anak tidak bisa langsung membaca buku, tanpa memahami hukum pertemuan antar huruf. Membaca itu sebuah ketrampilan yg dalam menguasainya perlu dukungan, waktu, dan kesempatan.

Membaca bukan bakat alam, anak2 perlu mempelajarinya spt belajar ketrampilan berenang. Anak2 ga bisa otomatis menguasai renang hanya dg melihat orang lain berenang. Juga menjahit, anak2 tidak bisa tiba2 bisa menjahit hanya dg melihat orang lain menjahit.

Membaca juga begitu, anak2 tidak dapat langsung bisa membaca hanya dengan mendengar cerita orang dewasa membaca buku. Lalui tahapan belajar membaca dengan baik, karena proses yg baik dapat memberikan hasil yang baik dan tidak menimbulkan stres pada anak.

Semua pakar literasi sepakat bahwa belajar membaca itu ada tahapannya.
Beberapa tahapan itu di antaranya seperti ini:

1. Mengenal nama huruf (sebagian ada yg menggunakan metode kenal suku kata dulu)
2. Memahami bunyi huruf jika bertemu dengan 1 huruf lainnya seperti ba, ca, fa, ga
3. Memahami cara membaca kata sederhana seperti ja-ka, ra-ja, dll
4. Memahami cara membaca kalimat sederhana dengan terpatah-patah (pelan2) contoh matahari pagi
5. Bisa memahami cara membaca huruf berakhiran konsonan seperti rak, mak, nah, mah, dll.
6. Mampu membaca kata yang lebih kompleks contoh enak, lebah, rebah, gerak, dll.

7. Dapat membaca kalimat yg lebih kompleks gabungan akhiran konsonan dan vokal secara pelan2. Contoh rubah lari, susu enak, gerak gerik, dll.

8. Bisa membaca cerita sederhana secara terpatah2 (belum lancar). Contoh belajar naik sepeda. Mita suka naik sepeda. Meski dia sering jatuh. Tapi hatinya tetap senang. Jatuh berulangkali, bangkit lagi dan kayuh lagi. Sampai Mita bisa naik sepeda tanpa jatuh lagi.
9. Membaca cerita sederhana secara lancar, tapi belum bisa memahami makna yg dibacanya.
10. Memahami cerita yg dibacanya dg baik.

Nah itulah 10 tahapan yang harus dilalui anak dalam belajar membaca sebelum anak bisa membaca lancar ya bun.Wah ternyata tulisannya panjang banget. Semoga bunda bacanya nggak mumet he he.

Sampai jumpa lagi bun.
Salam buat ananda di rumah 😉😊

Laskar ABACA 16

PENTINGNYA BERCERITA BAGI ANAK

Hai Ayah/Bunda, kali ini saya ulas kembali tentang pentingnya kegiatan bercerita pada anak. Saya dapatkan materi ini dari pembinaan agen abaca flashcard. materi ini penting banget buat para orang tua. Mohon disimak baik- baik yaaa

3 Alasan Pentingnya Orangtua Bercerita Pada Anak

💧 Bercerita melejitkan imajinasi anak.
Dr. John Hutton, penulis utama sekaligus peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut, mengungkapkan bahwa saat anak mendengarkan cerita, bagian otak yang memproses aspek visual akan aktif, bahkan ketika anak tidak melihat gambar apapun.

💧Anak belajar lebih banyak kosakata
Seperti dikutip dari New York Times, Jessica Sontag, asisten peneliti psikolog di University of California sekaligus penulis utama hasil penelitian tersebut berpendapat, “Buku cerita mengandung ragam kosakata yang lebih banyak ketimbang percakapan anak. Ini mengindikasikan bahwa anak-anak yang mendengar cerita, mengenal lebih banyak kosakata ketimbang mereka yang tidak dibacakan atau mendengar cerita.”

💧Tidak kalah penting: membangun ikatan anak dan orangtua
Nah, ini kesempatan Anda untuk mempraktikkan bercerita pada anak, selagi mempererat hubungan Ayah Ibu dengan anak.
🍓🍓🍓
Seperti halnya abaca seri membaca 2 menguak misteri rumah strowberi. Game dalam seri 2 ini disisipi 8 kisah tentang strowberi yg penggunaan bahasanya sangat ringan dan mudah dimengerti oleh ananda tercinta.
Menguak misteri rumah strowberi tidak menggunakan kuda, tapi anak2 panen buah strowberi yg jumlahnya disesuaikan dgn poin yg ada dalam kartu. Truss….ceritanya dimana???
🍓🍓🍓
Cerita tentang misteri rumah strowberi tersembunyi dalam dinamit yg akan meledak duarrr…..ketika ananda menemukan kartu dinamit tersebut disela2 kartu suku kata. Nah….hukuman buat bundanya ya bercerita tentang strowberi yg sesuai dlm petunjuk kartu dinamit tersebut.
🍓🍓🍓
So….bermain bonus anak bisa baca bonus lagi anak mengetahui cerita tentang strowberi juga.
🍓🍓🍓

Jadi, selain kegiatan belajar membaca lanjutan, di abaca flashcard seri 2 ini ada kegiatan berceritanya juga. Cerita tentang asal usul buah starwberry dan manfaatnya juga. Menarik sekali ya Ayah/ Bunda?

Segera dapatkan Abaca Flashcard ini ya. Pemesanan bisa langsung ke saya di 08128-752-7777 dengan harga Rp. 45.200 (belum termasuk ongkir)

KEISTIMEWAAN ABACA FLASHCARD

PENGKLASIFIKASIAN HURUF DI ABACA

Mengajari anak membaca berarti kita mengolah bahasa ke dalam bentuk tulisan, dan flashcard adalah media yang tepat untuk mengenalkan bahasa sekaligus tulisan kepada anak oleh karena itu ABACA FLASHCARD diciptakan.
ABACA FLASHCARD menggunakan metode aritmatika sukukata dan terpola jelas, serta dipadukan dengan permainan dan reward agar anak-anak merasa enjoy saat belajar.

Latar belakang ABACA FLASHCARD menggunakan metode aritmatika sukukata :
1. Jumlah anak yang mampu belajar membaca tanpa metode terstruktur masih sangat sedikit
2. Rentang perhatian rata-rata anak terkategori pendek
3. Anak-anak cenderung suka pada materi yang mudah
4. Anak-anak tidak suka di forsir

Mari saatnya kita berikan media belajar yang ramah otak bagi anak-anak, gunakan media edukatif ABACA FLASHCARD yang sudah mengantongi 1000 testimoni keberhasilan

ABACA TIDAK DIJUAL DI TOKO BUKU

Dapatkan Abaca Flashcard di Agen & Marketer resmi Abaca

KARTU BELAJAR MEMBACA ABACA FLASHCARD SERI 1

Dilengkapi dengan game “Panen Es Krim”
Apa sih kelebihan ABACA Flash Card seri 1 ?
ABACA Flash Card Cara Singkat Belajar Membaca (kurang dari 1 bulan).
Kartu ini disusun secara sistematis. Pada tahap awal, anak hanya dibolehkan memainkan 16 suku kata pilihan. Saya berhati-hati memilihkan suku kata yang “wajib” dipelajari terlebih dahulu untuk menghindari efek bosan pada anak. Saya membatasi dengan angka 16, untuk kartu pertama.
Kartu ini membantu “mengaktifkan” neuron otak kiri yang kurang berkembang pada anak-anak. Sebab pada usia balita bagian otak kanan lebih dominan dibanding otak kiri (itulah sebabnya anak-anak cenderung susah membedakan huruf “b” dan “d”). Namun kartu ini dirancang untuk membangun hubungan kedua bagian otak (kiri dan kanan) sehingga anak-anak mampu menghafal bahasa simbol dengan cepat.
Suku kata yang dipilih telah teruji mudah diingat anak-anak. Dilengkapi dengan permainan menarik. Game Panen Es Krim memiliki daya tarik tersendiri karena anak-anak akan benar-benar panen es krim jika mampu menjawab suku kata dengan benar.
Bisa dimainkan lebih dari satu anak. Jika dimainkan rutin, insya Allah anak dapat membaca dalam waktu kurang dari 1 bulan. Lengkap dengan panduan cara belajar agar anak senang.
ABACA Flash Card Seri 1
Abaca Flash Card Seri 1
Cocok untuk anak usia 3-7 tahun (bergantung kecerdasan anak).
Terdiri dari :
44 kartu (full color yang dicetak di atas glossy photo paper sehingga nampak elegan)
1 Lembar ukuran A4 Game Panen Es Krim (full color dicetak di atas glossy photo paper) dan lembar catatan hasil permainan (lengkap dengan skor dan grade yang diperoleh anak).
1 lembar gambar full color es krim (sekitar 50 buah gambar) dan dicetak di atas kertas glossy foto. 2 buah kuda-kuda untuk bermain.

Harga : Rp. 45.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Testimoni
ABACA Seri Membaca 1 Belajar Membaca Sambil Memanen Es Krim
Kia suka sekali membuang kartu belajar membaca yang aku beli di toko buku. Bahkan dia cuma melihat gambarnya lalu menerbangkannya ke udara dan membiarkannya jatuh berserakan di atas lantai. Aku sampai kehabisan akal dan nyaris saja menyerah. Padahal Kia sebenarnya cerdas tapi sayang, dia mudah sekali bosan. Aku mencoba membeli buku panduan belajar membaca, hasilnya? Hmm… hanya bertahan beberapa jam sebelum buku itu robek karena Kia membolak-balik isinya dengan serampangan. Dia sangat malas membaca suku kata pada buku-buku tersebut. Bahkan kemudian mogok total. Katanya, “Belajar membaca itu membosankan.” Akhirnya aku membuat kartu sendiri yang kemudian aku beri nama ABACA Flash Card (Seri 1) yang dilengkapi dengan Game Panen Es Krim. Tak disangka Kia suka banget memainkannya. Sehari bisa bermain 4 sampai 5 kali, bahkan dia sendiri yang mengajak main sampai aku kelelahan. Hasilnya? Mengejutkan! Dalam waktu kurang dari 30 menit Kia bisa hafal semua suku kata berakhiran “a”

Perlukah Menstimulasi Belajar Membaca

* Belajar Membaca , Perlukah Distimulasi?*

Tahukah, Bunda…
Di Amerika terdapat fakta bahwa sebanyak 33% dari siswa kelas 4 disana memiliki kemampuan membaca dibawah batas “Dasar” dari National Assessment of educational Progress dalam membaca teks. Selain itu, ternyata kemampuan membaca sejak dini menentukan penguasaan materi pembelajaran dimasa mendatang lho. Ada korelasi erat antara pengetahuan dan pemahaman bacaan. Terbukti dari riset Amerika bahwa mereka yang saat TK kemampuan belajarnya tertinggal, memiliki kemungkinan lebih besar untuk tetap berada pada “ketertinggalan” mereka saat naik tingkat sekolah. Hmm, fakta yang cukup mengejutkan, bukan?

Terus apa hubungannya dengan Stimulasi Membaca?

Sabar, Bunda…🤗🤗🤗
Sebagai orangtua kita tentu tidak ingin apabila anak kita mengalami ketertinggalan dari anak-anak sebayanya, padahal membaca adalah ketrampilan yang wajib dikuasai karena termasuk faktor penting yang mendukung berlangsungnya pembelajaran. Dari fakta diatas, kita menyimpulkan bahwa harus ada perhatian lebih dari kita untuk mengajarkan atau menstimulasi belajar membaca dengan baik agar sesuai harapan.

Perlu Bunda tahu, bahwa membaca bukan proses pertumbuhan yang alami terjadi, seperti berdiri, berjalan, meraih benda dll. Membaca adalah sebuah keterampilan yang harus dipelajari lhoo…sebuah proses yang kompleks. Saking rumitnya sampai-sampai Marilyn Adams menyebutkan bahwa operasi sistem membaca itu mirip seperti pengoperasian mobil. Karena selain mengajari membaca perlu teknik-teknik khusus, kita sebagai pendidik juga dituntut untuk mengajarkan bagaimana memperoleh manfaat dari kegiatan sepanjang masa ini. Wow, jadi ada seni lain dari sekedar mengajar baca ya? Ya. Berikut ini, Bunda…beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menstimulasi belajar membaca :

🎯 Pendidik harus memiliki target atau goals dari mengajar membaca

Apa tujuan akhir dari membaca? Tentu saja membaca dan memahami makna kata. Sekedar bisa membaca saja, itu mudah. Tapi sampai pada tingkat memahami, perlu kinerja yang tidak biasa. Guru harus bisa mengajak anak-anak belajar menyeimbangkan berbagai komponen membaca: pemahaman-phonemic, phonics, kelancaran, kosakata dan penggunaan kata dalam keseharian mereka.

⁉ Anak-anak yang mengalami kesulitan membaca biasanya memiliki masalah dalam memahami kata-kata yang didengar

Sebab utama yang biasa terjadi dari kesulitan membaca adalah tidak memahami apa yang dibaca, atau tidak pernah mendengar kata yang dia baca sebelumnya. Maka stimulasi yang perlu dilakukan adalah mengenalkan benda-benda sekitar sebanyak-banyaknya dengan pengucapan yang benar dan jelas dan berbicara dengan ritme yang pas sehingga anak dapat memahami ucapan kita dengan baik. Jadi, jangan ngomong sambil marah ya Bunda, biasanya ngomongnya cepet dan ga karuan ^^

📚👄👂🏻Belajar membaca setali tiga uang dengan berlatih berbicara dan belajar mendengarkan

Nah, jadi sebelum dia belajar membaca…kita persiapkan dahulu dengan banyak berkomunikasi dengan anak. Kita yang berbicara atau mendengarkan anak berbicara hingga secara tidak langsung kita telah membantu anak mengetahui struktur kalimat, pengetahuan kosakata dan tujuan komunikasi.

👌🏻👌🏻 Anak-anak yang kesulitan membaca harus mendapatkan perhatian khusus dibantu dengan guru yang terlatih dan media yang tepat

Mari kita lihat, fakta-fakta berikut: 88% anak yang mengalami kesulitan membaca pada kelas satu akan mengalami kesulitan memahami pada saat kelas empat. 85-90% anak yang mengalami kesulitan membaca lalu dibantu dengan pencegahan dan intervensi dini dapat meningkatkan kemampuan membaca sampai pada tingkat rata-rata. Artinya, kita harus tanggap saat ada anak yang kesulitan membaca agar tak terulang kesulitan pemahamannya di masa yang akan datang.

🎨📖Stimulasi pada usia prasekolah sangat berperan dalam proses pembelajaran pada tingkat berikutnya

Anak-anak yang terstimulasi pada usia prasekolah membuat mereka lebih siap untuk menerima materi pembelajaran. Berikut diantara indikator pembelajaran usia prasekolah:
✅1. Kemampuan untuk mengenali huruf alfabet
✅ 2. Pengetahuan umum tentang cetak (misalnya: membedakan cover depan dengan cover belakang, bagaimana membalik halaman buku dll)
✅3. Mengenali bunyi huruf (kesadaran phonem)

➡Diantara tips jitu untuk menstimulasi adalah bercerita/membaca dengan suara keras dengan melibatkan anggota keluarga untuk mendapatkan pengetahuan dan dan keterampilan diatas.

👨‍👩‍👧‍👦Usaha membuat anak dapat membaca dan mengolah bacaan adalah upaya yang harus dijalankan bersama

Orangtua, pendidik dan anggota masyarakat harus menyadari pentingnya bergotong-royong untuk mewujudkan generasi yang cinta membaca. Penelitian menunjukkan bahwa hasil yang signifikan didapat apabila keluarga mendukung upaya ini. Kesungguhan dan kesabaran guru juga sangat berperan untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Dan kepedulian masyarakat terhadap hal ini jelas akan membuat sebuah perubahan yang menggembirakan. Sudah waktunya bagi kita semua untuk memastikan bahwa setiap anak belajar membaca dan memahami bacaannya dengan baik. Ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Diterjemahkan secara bebas dari understood.org dengan beberapa penyesuaian.